Jumat, 04 Februari 2011

Antara Kamu Dan Dia bagiku

Kamu sangat cantik dan menarik sampai aku tak dapat membedakan kebenaran dan keinginan. Tapi hanya Dia yang jauh lebih indah darimu yang bisa mengetarkan hatiku.
            
Kamu adalah alunan nada yang begitu merdu ketika mulai berbicara. Tapi segala perkataanNya adalah pengahasil ketenangan yang berisi kebenaran tak tertolak.
            
Kamu adalah kelembutan kain yang ditenun dari sutera terbaik dengan ketelitian dan kerapian teksturnya yang sangat rentan dengan kekasaran. Tapi kelembutanNya dapat menghaluskan hati yang terkasar sekalipun.
          
  Kamu adalah kesejukan air terjun yang dapat memuaskan hasrat  orang disekitarnya. Tapi Dia adalah oase bagi orang yang tersesat di gurun kesesatan.
          
  Kamu adalah kekayaan yang bisa membeli segala benda yang aku minta. Tapi Dia mampu mengabulkan setiap doa yang aku panjatkan.
           
kamu dapat membuat suatu momen terasa lebih indah. Tapi Dia adalah pembuat keindahan itu dan dapat membuatnya abadi.
          
  Kemarahanmu dapat mempengaruhi orang disekitarmu dan akhirnya memusuhiku. Tapi azabNya lebih pedih dan menakutkan.
            
Melihat Kamu berjam-jam memang tak pernah membuat mataku kelu tapi semua orang bisa melakukannya. Sedangkan melihat Dia merupakan sebuah kenikmatan yang tak setiap orang akan dapatkan
           
Indahnya paras kamu terakui oleh setiap insan tak terkecuali aku. Tapi sayang Dia lah yang aku harap untuk mengisi hatiku.
           

DIA ADALAH للهعزة وا جالا

Kamis, 27 Januari 2011

entah puisi entah apa

melihat awan melintas di permukaan telanjang biru indah. sepoi angin membelai mata yang sayu saat nuraniku tersedot masuk dalam lubang hitam.memasuki ruang kelam paling gelap dalam alam terbawah di tempat yang sangat jauh tuk terjatuh. timbul hasrat tuk ku MENGAKHIRI HARI saat tak kuasa ku melihat lantunan nada nan pilu dalam alunan ritme tetap omongan orang yang menghentikan wana-warni cita ku yan membara dan asaku yang menggebu hanya karena tak bisa ku mengalahkan gelegar gairah kemenangan kakak yang selalu mengeringkan rongga tenggorokanku. memaksaku meneteskan butiran cerah dari sudut mata yang membiaskan rona 7 kilatan cahaya aurora bak permata indah mempesona tak lagi buatku bertanya kapan dunia menjadi indah !!


teman

jaman kapan??

Jauh ya? Udah lama sekali. Melihat kebelakang memang indah walaupun sangat jauh, walaupun hati gue meronta. Ga kepikiran indahnya pagi yang menyebarkan aromanya yang khas pas alarm lagu bon jovi it’s my life menggema berulang beradu dengan dinginnya tembok di kamar gue dulu. Dengan sigap gue langsung bangun tanpa membuang sedikit waktu pun buat matiin tuh alarm dan masuk lagi ke dalam selimut. Nyaman banget kawan, coba aja kalian bangun pagi-pagi pas ujan dan ac menyala trus guling-guling ke wc, matiin alarm dan klimaksnya; tidur lagi. Haha menyenangkan memang, menanggapi hidup begitu sederhana. Gue ga ngira hidup itu ternyata kayak kerikil di sepanjang aliran sungai. Arusnya ngebawa gue dengan ritme yang pasti dan gue ga bisa berhenti, kalaupun bisa berhenti paling-paling bakal ditinggalin. Sementara sungai dan isinya terus mengalir menuju hilir. Bahkan rajin berdo’a, sholat tahajud, ama ngaji sekalipun gue masih ga punya daya buat ngeberhentiinnya. Dulu gue sempat ngeliat masa lalu kaya seseorang yang memandang mimpi, begitu manis begitu indah tak terlupakan dan yang paling menyenangkan adalah semua penuh dengan kejutan. Gue pengen ngulang masa-masa itu, memperbaiki sedikit kesalahan kecil yang memperindahnya berharap untuk membuatnya lebih, entah lebih yang bagaimana yang gue maksud. 


Saat itu, gue nyoba buat jadi ikan salmon yang berenang melompat dengan anggunnya melawan arus sungai yang deras. Pandangan lurus kedepan ga ngelirik kiri kanan demi masa-masa yang gue kejar, udah kaya make kacamata kuda aja. Gue terus maju, maju, dan maju lagi. Ga peduli ada kerikil, batu atau bahkan seandainya ada beruang grizly yang udah ga makan seminggu pun gua tetep maju. Gue makin dekat kawan, semakin dekat dengan masa lalu yang gue kejar dengan susah payah. Ga sia-sia gue cape-cape browsing, fb-an, ampe ngaskus buat nyari jalan tercepat ke hulu sungai buat memulai semuanya lagi. Sampe suatu saat entah bisa dibilang berhasil atau engga,gue nyampe. Benar-benar nyampe di hulu, kawan. Tapi, yang gue liat adalah air terjun. Begitu tinggi dan mempesona. Cahaya matahari terbias memecah menjadi tujuh rona warna ngebuat gue semakin bernafsu. ‘Dikit lagi!’ Itulah yang terpikir di otak gue. Gue mulai mendekat, nerobos arusnya, melompat sekuat tenaga. Dan akhirnya gue jatuh. Sekali lagi gue coba, gue ngambil ancang-ancang yang pas kaya atlit lompat jauh di asean games. Tapi tetep apa gue jatuh. Belom puas, gua nyoba ngambil ancang-ancang yang lebih jauh, dan loncaaaat. Ternyata jatuh lagi. Anjrit! sial banget gue. Gue terus nyoba, terus, terus, dan terus. Sampai akhirnya gue terlempar dan jatuh terbalik. Disudut ini, sempet kliatan belakang—yang sebenernya masa depan—gue. Akhirnya gue diam bentar. Istirahat dari perjuangan dan ngeliat badan gue. Kelihatan lusuh dan pegel-pegel mulai kerasa. Akhirnya gue sadar sesuatu yang penting dan harusnya gue sadar dari dulu. Gue butuh tukang urut! ga ++ juga ga papa. Saat itu juga tiba-tiba gue kepikiran bahwa masa itu ga akan bisa sama lagi karena sejarah hanya terjadi sekali. Sedetik kemudian seperti tertampar, gue akhirnya tau gue benar-benar tertinggal, masa lalu ga gue dapet dan kawan-kawan berkembang semakin jauh. Saat itu gue terdiam lemas ga berdaya sama sekali. Satu kalimat tiba-tiba ada di otak gue, “penyesalan akan masa lalu dan ketakutan akan masa depan adalah dua hal yang akan mengekang hidup kita”. Gue pun mulai berenang maju, dan kali ini benar-benar kedepan. Untuk pertama kalinya gue bisa melihat mimpi di pancaran mata gue ketika gue melihat kedepan. Kecemerlangannya memusnahkan cahaya masa lalu yang selama ini menyilaukan mata dari pancaran aurora kemegahan mimpi. Dan sekali lagi gue akan melaju di kehidupan penuh kejutan gue.